Produk Jadi : Kemeja, Blouse, dan Taplak Meja

Produk Jadi - Blouse Batik Tancep

Produk Jadi - Kemeja Batik Tancep

Published in: on Oktober 9, 2009 at 2:10 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Jarik Motif Kontemporer

page 7a - revisi harga jarik

page 8a - revisi harga jarik

page 9a - revisi harga jarik

page 10a - revisi harga jarik

Published in: on Oktober 7, 2009 at 10:56 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Batik Cap Khas Tancep

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

Published in: on Oktober 7, 2009 at 10:49 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Motif Batik Tulis Khas Tancep

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

batik tulis ini semuanya memakai pewarnaan dari bahan alam

Published in: on Oktober 7, 2009 at 10:42 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Proses Batik Nur Giri Indah

Tahapan membatik :

  1. Ngemplong : Merupakan tahap pendahuluan meliputi pencucian kain mori untuk  menghilangkan kanji, dilanjutkan dengan pengloyoran (memasukkan kain ke minyak jarak/minyak kacang dalam abu merang/londo agar kain menjadi lemas), dan daya serap terhadap zat warna lebih tinggi. Agar susunan benang tetap baik, kain dikanji kemudian dijemur. Selanjutnya dilakukan pengemplongan (kain mori dipalu untuk menghaluskan lapisan kain agar mudah dibatik).
  2. Nyorek/mola: membuat pola di atas kain dengan cara meniru pola yang sudah ada (ngeblat). Contoh pola biasanya dibuat di atas kertas dan kemudian dijiplak sesuai pola di atas kain. Proses ini bisa dilakukan dengan membuat pola di atas kain langsung dengan canting maupun dengan menggunakan pensil. Agar proses pewarnaan bisa berhasil dengan bagus atau tidak pecah, perlu  mengulang batikan di kain sebaliknya. Proses ini disebut gagangi.
  3. Membatik: menorehkan malam batik ke kain mori yang dimulai dari nglowong (menggambar garis luar pola) dan isen-isen. Di dalam proses isen-isen terdapat istilah nyecek yaitu membuat isian di dalam pola yang sudah dibuat misalnya  titik-titik. Ada pula istilah nruntum yang hampir sama dengan isen-isen namun lebih rumit. Lalu dilanjutkan dengan nembok (mengeblok bagian pola yang tidak akan diwarnai atau akan diwarnai dengan warna yang lain).
  4. Nembok : Nembok atau menutupi bagian-bagian yang tidak boleh kena warna dasar. Bagian kain yang tidak boleh terkena warna dasar, dalam hal ini warna biru tua, ditutup dengan lapisan lilin tebal yang seolah-olah merupakan tembok penahan kemudian dikerjakan pada bagian sebelah dalam kain. Selesai menembok maka kain siap untuk tahap yang berikut yaitu pencelupan pertama mendapat warna dasar.
  5. Medel: pencelupan kain yang sudah dibatik ke cairan warna secara berulang kali hingga mendapatkan warna yang dikehendaki.
  6. Ngerok dan Mbirah: malam pada kain mori dikerok dengan lempengan logam dan dibilas dengan air bersih, kemudian diangin-anginkan hingga
  7. Mbironi: menutupi warna biru dan isen pola berupa cecek atau titik dengan malam. Ada pula proses ngrining yaitu mengisi bagian yang belum diwarnai dengan motif tertentu. Biasanya ngrining dilakukan setelah proses pewarnaan dilakukan.
  8. Menyoga : berasal dari soga yaitu kayu yang dipakai untuk mendapat warna coklat. Warna coklat didapat cukup dengan mencelup dalam campuran warna tidak sampai setengah jam lamanya. Setelah pencelupan dalam soga, maka kain siap dengan pemberian warnanya dan dibuang lilin seluruhnya (nglorod). Setelah lilin dibuang seluruhnya maka tampaklah kain batik dengan warna-warna dasar biru tua dengan gambaran sawo matang diseling dengan warna putih gading.
  9. Nglorot : melepaskan malam dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih. Kemudian dibilas dengan air bersih dan diangin-anginkan.

*Diolah dari berbagai literatur

Published in: on Oktober 7, 2009 at 10:20 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Profil Batik Warna Alam Nur Giri Indah

Profil Batik Warna Alam Nur Giri Indah

Kelompok batik warna alam “Nur Giri Indah” berdomisili di Dusun Sendangrejo, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul. Keberadaan kelompok ini tak lepas dari tangan dingin Ibu Sriharjoko yang akrab dipanggil Mbah Sri (60 tahun) yang sudah membatik sejak kecil. Perjalanan Mbah Sri membentuk kelompok batik warna alam ‘Nur Giri Indah’ ini cukup terjal berliku. Disela-sela rutinitas beliau menjadi buruh batik di Sumiharjo dan Winotosastro Yogyakarta, Mbah Sri ini mulai berpikir untuk mengajak tetangga sekitar rumah untuk mengerjakan batik meski hanya sebagai buruh nyorek saja. Ketika warga sekitar menyambut kegiatan membatik ini dan menjadikannya sebagai pekerjaan utama, Mbah Sri kemudian mencoba bangkit dan berniat membentuk kelompok batik sendiri. Berbekal tekad dan semangat yang kuat inilah akhirnya keinginan Mbah Sri untuk membentuk kelompok batik terwujud. Pada tahun 1992 kelompok batik warna alam “Nur Giri Indah” resmi berdiri hingga sekarang. Saat ini terdapat sekitar 40 orang pembatik di Sendangrejo, dan 18 orang (terdiri dari 13 orang perempuan dan 5 orang laki-laki) di antaranya telah tergabung dalam Kelompok Nur Giri Indah. Usia rata-rata mereka adalah 20-60 tahun.

Sekretariat Kelompok Batik Warna Alam “Nur Giri Indah”

Rumah              : Bapak Malik Rosyidi/Supatno

Alamat             : Sendangrejo, Tancep, Ngawen, Gunungkidul, Yogyakarta

Informasi dan pemesanan silakan menghubungi :

Malik Rosyidi                    : +6285729465230

Sukardi (Lurah Tancep): +6281548327948

Peta Tancep via googleearth

Published in: on Oktober 7, 2009 at 10:18 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.